Dunia Hanyalah Permainan Belaka


Menjelang usia 40 ini, saya kerap merenung. Oh, well, saya memang suka merenung sejak kecil. Ya, sejak kecil. Yang sebenarnya kurang bagus juga, sih, karena ujung-ujungnya saya lebih ke memikirkan segala hal sehingga kepala dan dada saya kerap penuh rasanya. Dan, buat anak kecil, itu melelahkan.

Apa sih yang saya renungkan? Ya, apa lagi kalau bukan tentang dunia. Tapi, semakin saya renungkan, semakin saya pikirkan, semakin saya yakin, dunia ini hanyalah permainan belaka.

Rentetan peristiwa -- baik dalam kehidupan saya pribadi maupun kehidupan dalam skala luas -- saling bertautan membentuk permainan itu.

Dan, sebagaimana sebuah permainan, tentu saya berusaha menaklukkannya, memikirkan cara-cara untuk memenangkannya.

Walau begitu, karena ini bukan permainan biasa, tak jarang, jalan menuju kemenangan itu muncul begitu saja (yang sebenarnya karena saya mengimani qadha dan qadar-Nya, saya paham, tak ada yang muncul begitu saja melainkan sudah ditetapkan oleh-Nya). Dan, tanpa saya sadari, tiba-tiba permainan itu selesai dengan sendirinya dan saya bahkan segera dapat menerka hikmah dari apa yang baru saja saya hadapi.

Namun, kadang ada permainan yang tak kunjung berujung, yang membuat saya mengerutkan kening, memikirkan, sebenarnya apa hikmah di baliknya dan pada akhirnya, saya tak jua dapat menyimpulkannya.

Kemudian, saya pun tersadar, sependek pengetahuan saya, setiap permainan pasti ada aturannya. Mungkin kah saya menggunakan aturan yang salah, sehingga hikmahnya tak jua nyata di hadapan saya?

Saya pun kembali merenung, lagi dan lagi, hingga akhirnya, saya rasa saya telah menemukan jawabannya.

Sejatinya, dunia ini merupakan ciptaan-Nya. Karenanya, tentu Sang Khalik lah Yang Maha Tahu mengenai permainan ini. Lalu, mengapa saya justru menggunakan aturan makhluk untuk bermain di ajang yang Ia ciptakan? Tentu peraturan yang Ia tetapkan lah yang paling cocok untuk saya gunakan dalam permainan ini.

Sehingga, perlahan-lahan, saya mulai memilih dan memilah. Ya, mungkin belum pada setiap permainan saya meninggalkan aturan makhluk dan beralih sepenuhnya pada aturan Sang Khalik. Tapi Alhamdulillah, saya mulai merasakan prosesnya.

Dan, pada akhirnya, dalam permainan apapun, ada menang dan ada kalah. Namun, permainan dunia ini, meskipun dimainkan di dunia, kemenangan atau kekalahan yang sesungguhnya justru tidak dirasakan di dunia. Melainkan pada kehidupan setelahnya.

Walau tak jarang, dalam keseharian di dunia ini, saya kerap merasa kalah. Saya merasa lemah. Tapi saat melewati kekalahan dan kelemahan itu, saya hanya berharap, kekalahan di dunia berbanding terbalik dengan kemenangan di alam setelahnya. Karena itu lah yang kemudian membuat saya tetap bermain dalam permainan ini. Permainan yang akan selalu bergulir hingga tiba saatnya saya mengucapkan selamat tinggal pada dunia yang hanya sementara ini.

Ya, saya pun mengingatkan kepada diri ini, bahwa dunia hanyalah permainan belaka, tentunya sambil saya berharap, semoga ada kemenangan abadi yang menanti saya di alam setelahnya. Aamiin.

No comments:

Post a Comment

Silakan tinggalkan jejak asamu di sini, kawan...