Rencana vs Harapan

Hingga saya lulus kuliah, hidup saya masih agak-agak sesuai harapan. Lulus SD, masuk SMP yang sesuai dengan rencana saya, lalu diterima di SMA yang sesuai dengan rencana saya, hingga menjadi mahasiswa di jurusan, fakultas, dan universitas yang saya rencanakan. Di sana ada usaha, ada doa, ada harapan.

Namun sejalan waktu, lepas dari universitas, hidup saya tidak lagi sesuai dengan rencana. Saya mulai bingung dan seakan kehilangan arah. Saya mulai takut berencana. Bahkan saya tak berani lagi berharap.

Saya jalani hidup seakan mengalir begitu saja, mengikuti arus takdir yang membawa saya. Dan tak jarang arus itu membawa saya ke bongkahan bebatuan  cadas yang menghempas saya ke sana dan ke mari. Saya limbung.

Cukup lama saya berada dalam kondisi seperti itu. Hingga suatu ketika saya dipertemukan oleh Allah dengan salah seorang kekasih-Nya, yaitu Ustadzah Halimah Alaydrus. Saya mulai mendapatkan pegangan, sehingga saat saya limbung, hempasannya tak terlalu jauh membawa saya ke arah yang salah.

Maulid Nabi Muhammad SAW di Awal tahun 2017

Alhamdulillah, saya berkesempatan memulai tahun 2017 dengan hal baik. Tadi pagi, saya, anak saya, dan Mama menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan oleh pengajian Ustadzah Halimah Alaydrus di Masjid Al-Ittihad, Tebet.

Karena membawa Mama yang menggunakan kursi roda, saya dan Hana duduk di tenda luar. Alhamdulillah nyaman dan kami dapat menyaksikan panggung dari layar televisi.

Rasa haru di hati menyeruak ini saat melihat para ustadzah di panggung, terutama Ustadzah Halimah Alaydrus. Tak terlukiskan cinta di hati saya untuk Ustadzah saya ini. Tanpa mengenalnya, mungkin saya tak akan berada di titik ini dalam keadaan setegar ini. Dia lah yang dengan tausyiahnya selalu dapat melembutkan hati saya yang kerap mengeras. Semoga Allah selalu membahagiakannya, di dunia dan di akhirat nanti.

Sepanjang acara, entah berapa kali air mata saya menggenang di pelupuk. Hingga akhirnya air mata itu pun tumpah tak terbendung saat Asyroqol. Rindu kepadamu, Rasul SAW, ya Jaddal Husaini, tak tertahankan lagi. Membayangkan cintamu kepada kami, umatmu. Membayangkan tiap sholawat dan salam yang kami sampaikan kepadamu membuatmu tersenyum.


Menuliskannya lagi di sini saja membuat saya kembali menitikkan air mata.

Indah, sungguh indah pengalaman awal tahun ini. Semoga menjadi pembuka berbagai kebaikan lainnya dalam hidup saya. Aamiin Ya Rabb.

Dan, Alhamdulillah saya sempat menyarikan beberapa kisah yang dituturkan Ustadzah Halimah Alaydrus dalam Maulid tadi di akun facebook saya. Berikut ini saya salin juga di sini, sekadar berbagi kebaikan dan keindahan kisah yang saya dengar...

  1. Yang pertama dikisahkan adalah tentang Abdullah bin Hudzafah yang diutus Rasul untuk mengirmkan surat kepada Raja Kisra di Persia dan Kaisar Romawi. Oleh Kaisar Romawi, ia ditawarkan untuk berpindah keyakinan menjadi Nasrani. Tapi ia tak mau dan akhirnya diancam untuk dibunuh. Dan ia berkata kepada sang Kaisar, "Jika aku punya seribu nyawa, akan aku persembahkan satu per satu nyawaku untuk Nabi Muhammad." 
  2.  A'robi, seorang bapak tua, yang sedang thawaf berucap, "Ya karim, duhai Allah Yang Maha Dermawan." Ada lelaki tampan yang mengikutinya dari belakang dan mengucapkan hal yang sama. A'robi merasa tersinggung. Satu kali, dua kali... hingga A'robi akhirnya berkata kepadanya, "Jika bukan karena ketampananmu, aku akan adukan engkau kepada Nabi Muhammad." Padahal A'robi belum pernah bertemu Sang Rosul SAW, namun ia telah mengimaninya. Dan ternyata, lelaki tampan itu tak lain dan tak bukan adalah Nabi Muhammad SAW sendiri. 
  3. Habib bin Zaid adalah putra Nasibah Almazaniyah, salah satu wanita Madinah yang pertama kali beriman. Saat masih kecil, ia diajak sang ibu untuk berbaiat kepada Rasulallah SAW di Mekkah. Ia mengulurkan tangan mungilnya kepada Rasulallah SAW dan bersumpah setia pada malam pembaiatan. Sejak tangannya dipegang Rasul SAW, Rasul SAW menjadi orang yang paling dicintai Habib. Pada tahun ke-9 Hijriah, jammaah dari pelosok Arab datang ke Madinah untuk berbaiat kepada Rasulallah SAW. Salah satunya adalah Bani Hanifah dari Najd. Musailamah bin Habib al Hanafi turut namun ia hanya menjaga unta. Setelah kembali ke Najd, Musailamah justru murtad dari Islam dan mengaku sebagai Nabi/utusan Allah kepada kaumnya dan ia mengirimkan surat kepada Rasulallah. Rasul SAW mengutus Habib yang sudah menjadi pemuda untuk mengirimkan surat balasan kelada Musailamah. Namun Habib malah ditawan oleh Musailamah dan ditanya apakah Musailamah juga utusan Allah. Habib tentu menolak bersaksi bahwa Musailamah utusan Allah. Musailamah dengan kejam menyuruh algojo memotong jari Habib. Lalu Musailamah kembali bertanya, tapi Habib tetap pada pendiriannya. Hingga satu per satu jemari yang dulu pernah digenggam Rasul SAW pada malam pembaiatan dipotong algojo dan Habib menghembuskan napasnya yang terakhir dalam iman kepada Rasulallah sebagai utusan Nabi.
  4. Setelah wafatnya Rasulallah SAW, Bilal bin Robbah merasa sangat rindu kepada Rasulallah SAW. Bahkan ia memutuskan hijrah ke Iraq untuk menyebarkan ajaran Islam dan karena ia tak sanggup tetap di Madinah karena teringat Rasul SAW. Suatu saat ia memimpikan Rasul SAW dan dalam mimpi itu, Rasul SAW berkata, "Kebekuan apakah ini, Bilal? Bukankah sudah waktunya engkau mengunjungiku?" Dan Bilal pun berziarah ke makam Rasul SAW. Saat datang, ia diminta adzan oleh sahabat. Ia menolak karena ia tak lagi sanggup adzan setelah Rasul SAW tak ada. Namun Bilal bertemu Sayyidina Hasan, cucu Rasulallah. Dan Sayyidina Hasan meminta Bilal adzan. Bilal pun kali ini tak menolak. Bilal kemudian mendatangi makam Rasulallah SAW dan ia menangis tersedu-sedu di pusara Rasul SAW. Ketika tiba waktu dzuhur, Bilal memenuhi janjinya kepada Sayyidina Hasan dan naik ke menara untuk adzan. Di sana ia kuatkan hati untuk adzan, sementara di pelupuk matanya terbayang wajah yang paling dicintainya, wajah Rasulallah SAW. Lalu Bilal mengumandangkan adzan. Bilal yang kerap menjadi saksi isakan Nabi Muhammad SAW saat menangis dan memohon ampun buat umatnya teringat semua kenangan akan Rasul SAW. Tangis Bilal pecah, ia tak sanggup melanjutkan adzannya. Ia kembali ke Iraq hingga ajalnya tiba. Sang istri merasa iba dengan Bilal yang meregang nyawa, mengucapkan kesedihannya. Tapi Bilal yang justru rindu dan ingin segera berkumpul dengan Rasul SAW menyuruh istrinya agar jangan mengasihaninya dan agar berkata betapa bahagianya Bilal. Akankah kematian kita akan seindah itu? Akankah kita menyambut kematian seperti Bilal, yang bahagia akan segera bertemu dengan Sang Nabi? Jika hidup kita kita persembahkan kepada Nabi SAW, tak tertutup kemungkinan kita akan bertemu dengannya kelak. Aamiin YRA.
Jika ada kekurangan dan kesalahan dari apa yang saya sarikan di atas, semata karena kealpaan saya yang fakir ilmu. Mohon diingatkan agar saya belajar kembali. Terima kasih.