Tersingkap dan Terurai

Malam tadi saya dibuat menangis. Sebuah tabir besar dalam perjalanan hidup saya baru saja mulai tersingkap. Padahal, sejak beberapa waktu belakangan, saya sedang berusaha tak memikirkannya lagi. Saya abaikan kegundahan yang muncul akibat darinya. Saya anggap ia tiada.

Tapi Allah memang Maha Baik. Di saat saya tak menyangka hal itu bisa terjadi, Allah justru menyuguhkannya. Dan perjalanan menuju terungkapnya tabir itu sungguh indah. Sang Maha Pengatur melibatkan Ka'bah dalam prosesnya.

Sungguh ini adalah penyelesaian sebuah permasalahan dunia, namun saya justru merasakan pengalaman spiritual yang sangat indah.

Alhamdulillah, menjelang usia yang ke-40 ini, Allah telah menunjukkan jalan menuju terurainya salah satu simpul dalam hidup saya.

Gambar bunga indah ini dari SINI.

Dunia Hanyalah Permainan Belaka


Menjelang usia 40 ini, saya kerap merenung. Oh, well, saya memang suka merenung sejak kecil. Ya, sejak kecil. Yang sebenarnya kurang bagus juga, sih, karena ujung-ujungnya saya lebih ke memikirkan segala hal sehingga kepala dan dada saya kerap penuh rasanya. Dan, buat anak kecil, itu melelahkan.

Apa sih yang saya renungkan? Ya, apa lagi kalau bukan tentang dunia. Tapi, semakin saya renungkan, semakin saya pikirkan, semakin saya yakin, dunia ini hanyalah permainan belaka.

Rentetan peristiwa -- baik dalam kehidupan saya pribadi maupun kehidupan dalam skala luas -- saling bertautan membentuk permainan itu.

Dan, sebagaimana sebuah permainan, tentu saya berusaha menaklukkannya, memikirkan cara-cara untuk memenangkannya.

Walau begitu, karena ini bukan permainan biasa, tak jarang, jalan menuju kemenangan itu muncul begitu saja (yang sebenarnya karena saya mengimani qadha dan qadar-Nya, saya paham, tak ada yang muncul begitu saja melainkan sudah ditetapkan oleh-Nya). Dan, tanpa saya sadari, tiba-tiba permainan itu selesai dengan sendirinya dan saya bahkan segera dapat menerka hikmah dari apa yang baru saja saya hadapi.

Namun, kadang ada permainan yang tak kunjung berujung, yang membuat saya mengerutkan kening, memikirkan, sebenarnya apa hikmah di baliknya dan pada akhirnya, saya tak jua dapat menyimpulkannya.

Kemudian, saya pun tersadar, sependek pengetahuan saya, setiap permainan pasti ada aturannya. Mungkin kah saya menggunakan aturan yang salah, sehingga hikmahnya tak jua nyata di hadapan saya?

Saya pun kembali merenung, lagi dan lagi, hingga akhirnya, saya rasa saya telah menemukan jawabannya.

Sejatinya, dunia ini merupakan ciptaan-Nya. Karenanya, tentu Sang Khalik lah Yang Maha Tahu mengenai permainan ini. Lalu, mengapa saya justru menggunakan aturan makhluk untuk bermain di ajang yang Ia ciptakan? Tentu peraturan yang Ia tetapkan lah yang paling cocok untuk saya gunakan dalam permainan ini.

Sehingga, perlahan-lahan, saya mulai memilih dan memilah. Ya, mungkin belum pada setiap permainan saya meninggalkan aturan makhluk dan beralih sepenuhnya pada aturan Sang Khalik. Tapi Alhamdulillah, saya mulai merasakan prosesnya.

Dan, pada akhirnya, dalam permainan apapun, ada menang dan ada kalah. Namun, permainan dunia ini, meskipun dimainkan di dunia, kemenangan atau kekalahan yang sesungguhnya justru tidak dirasakan di dunia. Melainkan pada kehidupan setelahnya.

Walau tak jarang, dalam keseharian di dunia ini, saya kerap merasa kalah. Saya merasa lemah. Tapi saat melewati kekalahan dan kelemahan itu, saya hanya berharap, kekalahan di dunia berbanding terbalik dengan kemenangan di alam setelahnya. Karena itu lah yang kemudian membuat saya tetap bermain dalam permainan ini. Permainan yang akan selalu bergulir hingga tiba saatnya saya mengucapkan selamat tinggal pada dunia yang hanya sementara ini.

Ya, saya pun mengingatkan kepada diri ini, bahwa dunia hanyalah permainan belaka, tentunya sambil saya berharap, semoga ada kemenangan abadi yang menanti saya di alam setelahnya. Aamiin.

Blog Baru di Hari Senin

Akhirnya, saya putuskan untuk 'ngeblog lagi.' Dan, walau blog ini sudah sejak Sabtu saya buat, postingan pertama saya tulis di hari Senin karena saya senang memulai sesuatu yang penting di hari Senin, seperti diet, contohnya. Oh, well, diet mungkin bukan contoh yang tepat karena diet saya jarang banget yang berhasil. Ada yang berhasil, tapi mungkin hitungannya satu banding sepuluh.

Dua diet saya yang lumayan sukses adalah saat sebelum nikah dan sebelum hamil kedua. Jadi silakan dikira-kira sudah berapa kali saya mencoba diet.

Oke, fokus! Mari kita kembali ke postingan pertama di blog baru saya ini, karena kisah diet saya memang tidak terlalu menginspirasi.

Setelah berjuta-juta (hiperbola) blog yang saya buat dan kemudian saya abaikan, saya tiba-tiba ingin punya blog baru. Kenapa tidak melanjutkan yang sudah ada? Hm... begini ceritanya...

Saya merasa, setiap blog saya mengemban aura yang sedang menyelimuti saya pada saat pembuatan blog tersebut. Dan sejalan waktu, saya merasa diri saya mengalami perubahan, sehingga menulis di blog yang dulu menjadi tidak relevan.

Padahal, menurut ilmu SEO, harusnya saya maintain saja blog lama saya, pasti akan lebih menjanjikan dari segi pengunjung. Tapi, mungkin -- mungkin ya -- saya bukan mencari pengunjung. Saya punya blog anonim tempat saya curhat yang pengunjungnya hanya saya dan entah siapa dari daratan Amerika dan Eropa dengan traffic sources yang ajaib URL-nya. Tapi saya tidak mempermasalahkan karena memang saya hanya ingin menumpahkan apa yang mengganjal di hati dan benak saya, sehingga pengunjung tidak lagi penting.

Lalu, bagaimana dengan blog baru ini? Ke mana saya akan membawanya? Saya pun belum tahu. Yang pasti, blog ini mungkin -- lagi-lagi masih sebuah kemungkinan -- merupakan blog yang menjadi teman saya dalam perjalanan menuju usia 40 tahun, yaitu 9 bulan lagi. Hihi... kalau dipikir-pikir keren juga ya? Sembilan bulan lagi saya akan terlahir kembali sebagai manusia berkepala empat (jangan dibayangkan secara harfiah ya, LOL!).

Usia 40 ini terasa penting buat saya. Selain Allah secara khusus menyebutnya dalam surat Al-Ahqaf ayat ke-15, ada pula hadits dan riwayat yang sengaja membahas usia ini.

Dulu, saya menganggap usia 40 adalah usia settle, sudah tahu apa yang dilakukan, sudah mencapai sukses yang dicita-citakan, dan banyak lagi. Namun, ternyata, pada usia ini saya masih dalam proses mencari dan menggapai cita-cita. Mungkin memang sudah ada titik terang ke mana saya akan berlayar. Tapi, sepertinya kompas yang saya jadikan acuan masih mengarahkan saya ke sana ke mari, seperti Ayu Tingting yang ke sana ke mari membawa alamat palsu. :P

Jadi, biarlah blog ini ikut berlayar bersama saya. Semoga dapat menjadi penangkal badai dan penghalau ombak besar yang menerjang hari-hari saya. Atau sekadar menjadi riak kecil yang meriangkan hati saya. Itu pun tak mengapa. Yang pasti, "Pelangi di Ujung Masa" merupakan cara saya kembali merajut asa bahwa setelah hujan badai berlalu, Allah akan menghadirkan pelangi nan indah dalam hidup saya.

Dan, di hari Senin ini, saya resmikan blog saya yang entah ke berapa ini.

Bismillah.