Catatan di Gerbong Kereta Pulang

📝 
Catatan seorang bunda, yang sebegitu rindunya kepada sang anak, yang bahkan hingga lekuk jemari dan kukunya saja kerap terbayang di pelupuk mata, yang saat bertemu serasa tak ingin melepaskan genggaman tangannya.

Meninggalkan separuh hati di sebuah tempat yang jauh bukan lah hal mudah. Terlebih si buah hati baru saja bercerita panjang lebar tentang keresahan hatinya, tentang kemelut jiwanya.

Seorang ibu, tentu lah naluri pertama yang timbul adalah ingin melindungi anaknya. Ingin melepaskannya dari gelisah.

Namun seorang ibu juga harus tegar, harus kuat, harus tetap menjadi tiang kokoh tempat si anak berpegangan di kala badai menerpa.

Seorang ibu juga harus sanggup berkata...

Nak, hidup sejatinya adalah tentang bagaimana kita berdiri tegak walaupun badai menghantam, tentang bersyukur jika yang muncul sebatas ombak kecil di mana kaki kita dapat berayun riang seraya menggemericikkan riaknya. Hidup bukan tentang membiarkan diri tenggelam tanpa perlawanan, bukan pula tentang kepasrahan yang sia-sia.

Maaf jika Bunda tak selalu menjadi sekoci yang mengangkutmu, membawamu pergi dari berbagai badai yang kau hadapi. 

Bukan tak ingin. Tapi, Bunda tak selalu ada, usia tak ada yang abadi. Tugas Bunda adalah mempersiapkanmu menghadapi entah itu badai yang menyesakkan atau riak ombak yang menyenangkan. Agar jika kau terhempas badai, kau dapat tetap tegar, sementara jika kau terhibur oleh riak ombak sekecil apapun, kau dapat bersyukur.

Dan cara terindah melewati semua itu adalah dengan ilmu agama yang cukup, sehingga kau mengenal Penciptamu dan dapat meresapi setiap tuntunan-Nya dalam mengarungi kehidupan.

Maka, maafkan jika Bunda kembali pulang dan menitipkanmu di sana. Tidak mudah, sangat berat. Namun cinta jua lah yang membuat Bunda tegar. Dan juga karena bukan hanya kepada para Ustadzah, Bunda titipkan dirimu, namun langsung kepada pemilik-Mu, kepada Allah Sang Pemilik Segala, Sang Pelindung Yang Maha Kuasa.

Semoga kita sama-sama bisa terus berpegang pada niat awal kita, untuk menjalani semua ini Lillahi Ta'ala. Aamiin.

Antara Cirebon dan Jakarta, 2 Agustus 2019, pk. 18.40-19.10.

(Persis setelah blog post ini ditulis, adik saya menelepon dan mengabarkan tentang gempa di Jakarta. Segera saya tanyakan kepada para Ustadzah di Ponpes, apakah di sana merasakan gempa dan lega saat dijawab bahwa di sana baik-baik saja. Alhamdulillah.)

💬

Yah begitulah, cara saya meluapkan isi hati yang sempat menggemuruh karena pertemuan sekaligus perpiasahan dengan buah hati saya. Saya menulis.

Alhamdulillah, di dalam gerbong kereta, dalam kesendirian, diiringi deraian air mata dan isak tangis yang tertahan, beberapa paragraf sempat saya curahkan. Karena, buat saya, writing is healing.

Begitu pula pesan saya kepada anak saya, selain curhat kepada Allah (karena selama dia mondok, saya tak ada di sisinya, tapi Allah selalu bersamanya), menulis lah, Nak.

Itu pula lah mengapa belakangan saya kembali ngeblog, kembali menulis. It heals me. Insya Allah.

Comments

Popular Posts